Ketika 500meter=10menit
Beberapa
waktu lalu, di hari Jumat yang buru-buru, saat jam masih menunjukkan pukul
06.30 pagi, saat aku harus lari2 karena
kalo enggak bakalan ketinggalan kelas kota tangguh lagi, saat dengan serampangan aku jalan kaki untuk
mengejar bus kota jalur dua, ada sesuatu yang membuatku berhenti
Bukan
karena kesandung, bukan karena sengaja nabrak mas-mas, bukan karena nemu duit
segepok ngegeletak di tengah trotoar, tapi karena...jeng, jeng, jeng, jengggg
Aku
berpapasan dengan seorang simbah2 yang tiap hari jualan di pasar di deket
kostku.
Dan mendadak aku roll depan roll belakang –ya enggak
lah!!-
Kalo pake hasil analisa kurang ajarku, dilihat dari
intensitas uban serta keriput yang uda mendominasi muka, simbah itu berusia
nggak kurang dari 80 tahun.
Simbah.yang.pasti.80.tahun itu hampir tiap jumat
berpapasan denganku di jalan yang sama, bedanya…kami berlawanan arah, tapi
tujuannya sama juga sih, untuk ngejalanin idup.
Entah aku yang begonya nggak ketulungan ato emang
nggak peka dengan keadaan sekitar, setelah lebih dari 2 tahun menyusuri jalan
yang sama, aku baru menyadari ada nenek itu di salah satu orbital keseharian
hidupku. Berjalan dengan badan bungkuk dan kecepatan yang
sumpah.itu.lelet.banget, -aku bahkan sempat curiga simbah itu butuh waktu 1 jam
untuk sampe ke pasar tempatnya jualan tiap hari sementara untukku,..aku hanya
butuh 10 menit untuk menempuh jarak yang sama-.
Mennn, saat itu juga aku benar-benar berhenti dari
jalan cepatku untuk berpikir sebentar –oke, oke…bukannya lebay, tapi emang
dasarnya aku aja yang payah jadi nggak bisa melakukan dua aktivitas dalam waktu
yang bersamaan (baca:serius mikir dan jogging pagi ngejar bus.kuning.jalur.dua)
Ternyata dunia bisa begitu dinamis.
Dan ajaib,
Aku terus berpikir mengenai 500meter/10menit jalan
keseharianku yang bisa menjadi begitu ‘lama’ untuk orang lain.
aku hanya butuh 10menit.
Namun, dengan panjang jalan yang sama, dengan besar
hambatan samping yang nggak beda jauh, seseorang yang berada di trotoar
seberang jalan butuh lebih dari setengah jam.
Bagaimana bisa hanya untuk 500meter, energy yang kami
butuhkan bisa begitu berbeda. –aku bahkan belum menambahkan quota siksaan yang
harus bertambah saat simbah pulang dari pasar yang asal tahu aja itu lebih,
lebih menyiksa karena matahari ikut nimbrung buat ikut jadi piguran-
Sekali lagi, dunia itu ajaib.
Dan setelah satu abad diam dalam kebingungan, aku
berjalan lagi karena ingat muka dosenku yang sangat suka menunjukku untuk maju
ke depan kelas.
Aku,… 21 tahun dan 500 meter sama dengan 10menit
untukku.
Simbah itu,… 80tahun –kelihatannya- dan 500 meter sama
dengan 30 menit –bahkan aku yakin lebih malah- untuknya.
Persamaan yang sangat membingungkan apalagi aku bego
dalam matematika -.-‘
Saat aku berjalan kembali, terasa ada yang berbeda,
ada yang terselip di otakku dan mengusikku untuk bicara pada diri sendiri.
–gile bahasaku ngeri banget-. Kalian tahu, sejak detik itu…aku merasa fisikku
–fisik, oh,no,no,no…lebih tepatnya all of me- yang sekarang begitu berharga,
dan rasanya begitu banyak yang mendadak ingin aku lakukan seolah tidak akan
pernah ada kesempatan yang sama karena waktu terus berjalan.
Aku ingin melakukan banyak hal sebelum 500meter serasa
1000mil untukku
Jadi, mulai sekarang…
Selagi 500meter=10menit, rencanakan petualangan yang
bisa dikenang dan lakukan apa yang ingin kita lakukan, J
Yah, beginilah derita orang yang daya ingatnya rendah,
haha…harus menuliskan banyak hal yang dianggapnya penting karena ketakutan
terbesarnya adalah suatu ironi yang menyedihkan, yaitu lupa dengan apa yang
tidak ingin dilupakan.
NJ...wes suwi aku ga weruh rupamu, ojo² podo absurd'e koyo tulisanmu...wkkk
BalasHapustp sip kok tulisanmu, pesanny dapet...hee
ayo berpetualang... ;)
Life is Adventure... *iklan*
Alhamdulillah.. ternyata fikiran kita sama aya :( q juga sering mikir gitu kalau lagi jalan kekampus, ngebut naik motor, tiba-tiba papasan dengan kakek/nenek naik sepeda.. bawa barang banyaaaaaaaaaaaaaaaaak banget.. tapi keliatannya mereka seneng2 aj.
BalasHapusq cuma ke kampus, meluncur.. naik motor pula, suka males2an..
:D untungnya masih diingatkan sama Allah
beng-benggggg....kemana aja kau selama ini woy, haha. rupaku tambah mencengangkan no, sama sepertimu mesti. thanks dah komen (kapan yak kita ketemu lagi??)
BalasHapushaloooh dita, gila...kupikir cuma orang2 'absurd' kayak aku yang mikir kayak gini, ternyata dita juga, berarti dita juga ...(isilah titik2 berikut), haha, enggak deng, makasih uda komen ya dit, ayo kita mensyukuri berkah yang kita miliki dengan melakukan2 hal2 yang berguna, selagi bisa :D
BalasHapusEh eh eh...rupaku bagus" ae kok, gak terlalu mencengangkan...wkkk :p
BalasHapusAku selama ini di Semarang Je...
Alhamdulillah masih pengen ketemu lagi, hihii
Tenang Je, kayaknya bulan depan bakalan pindah menyusulmu ke Kota Seniman, JOGJA...! So, Sambut aku ya Je...haa :D